Tuhanku
Dalam termangu
Kusebut nama-Mu
Biar susah sungguh
Mengingat Kau penuh seluruh
Tuhanku
Cahaya-Mu
Panas suci
Bagai kerdip lilin
Di kelam sunyi
Tuhanku
Aku hilang bentuk
Kembara di negeri asing
Tuhanku
Pintu-Mu kuketuk
Aku tak bisa berpaling
AKU
Kalau sampai waktuku
‘Ku mau tak seorang kan merayu
Tidak juga kau
Tak perlu sedu sedan itu
Aku ini binatang jalang
Dari kumpulannya terbuang
Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang menerjang
Luka dan bisa kubawa berlari
Berlari
Hingga hilang pedih peri
Dan aku akan lebih tidak perduli
Aku mau hidup seribu tahun lagi
Maret 1943
PERSETUJUAN DENGAN BUNG KARNO
Ayo ! Bung Karno kasi tangan mari kita bikin janji
Aku sudah cukup lama dengan bicaramu
dipanggang diatas apimu, digarami lautmu
Dari mulai tgl. 17 Agustus 1945
Aku melangkah ke depan berada rapat di sisimu
Aku sekarang api aku sekarang laut
Bung Karno ! Kau dan aku satu zat satu urat
Di zatmu di zatku kapal-kapal kita berlayar
Di uratmu di uratku kapal-kapal kita bertolak & berlabuh
Chairil Anwar
(1948)
Liberty, Jilid 7, No 297, 1954
Baca puisinya di sini: http://chairil-anwar.blogspot.com/ Dan juga di sini : http://penyair.wordpress.com/category/chairil-anwar/
sampai detik ini
nafas dan langkahku berada
disisi si Bung yang Besar itu
tak peduli
anak beranak tak segaris, tak seirama
membela kaum tertindas
melanjutkan revolusi yang belum selesai
revolusi …
revolusi …
revolusi sampai MATI ….