Feeds:
Tulisan
Komentar

   DOA

Tuhanku
Dalam termangu
Aku masih menyebut namaMu

Biar susah sungguh
Mengingat Kau penuh seluruh

cayamu panas suci
tinggal kerdip lilin di kelam sunyi

Tuhanku

aku hilang bentuk
remuk

Tuhanku

Aku mengembara di negeri asing

Tuhanku
di pintuMu aku mengetuk
aku tidak bisa berpaling

13 November 1943
(dikutip dari kumpulan Deru Campur Debu, 2000, hlm. 13)

Sebuah Puisi karya Chairil Anwar

SENJA DI PELABUHAN KECIL

Buat Sri Ajati

Ini kali tidak ada yang mencari cinta

di antara gudang, rumah tua, pada cerita

tiang serta temali. Kapal, perahu tiada berlaut

menghembus diri dalam mempercaya mau berpaut

Gerimis memepercepat kelam. Ada juga kelepak elang

menyinggung muram, desir hari lari berenang

menemu bujuk pangkal akanan. Tidak bergerak

dan kini tanah dan air hilang ombak

Tiada lagi. Aku sendiri. Berjalan

menyisir semenanjung, masih pengap harap

sekali tiba di ujung dan sekalian selamat jalan

dari pantai keempat, sedu penghabisan bisa terdekap

Dari: Deru Campur Debu (1949)

       terima kasih

ayah!!!!!!!!!!!!!!!!!!


ayah,,,,,,terima kasiiiiiiiiiiiiiih bgt.
Karna Engkau aku pun ada………………………….
Tapi aku belum bisa membalas semuanya……………..
Ayah aku kangeeeeeeeeeeeeeeeeeen bgt sama ayah…………………….
Gimana ya caranya supaya aku bisa ketemu sama ayah?????????????
Ayah aku pengen bgt ketemu sama ayah meski itu hanya lewat mimpi……………
Meski itu hanya sementara ayah…………….
Ayah maaf kan anakmu ini……………
Ayah aku pengen bgt kita sama-sama kayak dulu……..
Ayah sekarang ayah dimana??????????
Ayah sebenernya aku sayang bgt sama ayah…………
Ayah,sayang gak ya sama aku??????????????
Ayah kangen juga gak ya sama aku???????????????
Kabar ayah gimana disana?????????????????
Ayah baik-baik aja kan???????/
Ayah kapan ya kita bisa ketemu?????????
Kapan ya kita bisa saling memadu rasa rindu??????????
Ayah aku kangeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeennnnnnn bgt.
Sekarang aku dah dewasa,ayah pasti dah tau perkembangan aku……
Kalo ayah tau perbuatan aku waktu itu mungkin ayah akan marah sama aku.
Tapi aku yakin ayah bisa memaafkan perbuatan ku.,,,,,
Ayah aku telah mengecewakan ayah,,,,ayah pasti nyesel bgt setelah tau aku berbuat salah.
Mungkin ibu belum tau,dan ibu gak akan pernah tau.
Ini jadi rahasia aku, Tuhan, dan ayah bila ayah tau…………
Aku nyesel bgt yah,,,,,,,,,,tapi itu semua telah terjadi……
Aku gak nurut sama pesan ayah dulu…….
Aku telah ngingkari nasehat ayah…………
Maaf bgt ayah…………
Sekarang aku pengen nangis di dekapan ayah……………
Tapi ayah telah pergi jauh bgt………
Ayah ntar malem boleh ya aku ketemu sama ayah?????????????
Bentar aja kok yah,,,,,,,bentar aja.Aku cuma pengen cerita sama ayah.
Aku pengen bgt ngerasain hangatnya dekapan ayah……….
Masih banyak bgt yang pengen aku ceritain sama ayah……….
Ayah……………………………
Menurut aku,sekarang aku dah bisa nyari seseorang yang aku rasa mirip sama ayah………
Tapi dia juga gak akan pernah bisa ngantiin ayah dihati aku………….
Ayah tau gak sekarang aku menangis sendiri tanpa ada yang mau menghapus air mata ku.
Dulu saat aku menangis, ayah selalu membasuh air mata ku……
Ayah mungkin ini sudah takdir,kita dipisahin saat itu……..
Udah dulu ya ayah…………..

Tugas Sastra 2

-Puisi Karya Sutardji Calzoum Bachri

Pot ( 1970 )

Pot apa pot itu pot kaukah pot aku

Pot pot pot

Yang jawab pot pot pot pot kaukah pot itu

Yang jawab pot pot pot pot kaukah pot aku

Pot pot pot

Potapa potitu potkaukah potaku ?

 

O

Dukaku dukakau dukarisau dukakalian dukangiau
Resahku resahkau resahrisau resahbalau resahkalian
Raguku ragukau raguguru ragutahu ragukalian
Mauku maukau mautahu mausampai maukalian maukenal maugapai
Siasiaku siasiakau siasiasia siabalau siarisau siakalian siasiasia
Waswasku waswaskau waswaskalian waswaswaswaswaswaswaswas
Duhaiku duhaikau duahairindu duhaingilu duhaikalian duhaisangsai
Oku okau okosong okalian obolong orisau okau O..

Shang Hai ( 1973 )

Ping di atas pong
Pong di atas ping
Ping ping bilang pong
Pong pong bilang ping
Mau pong ? Bilang ping
Mau mau bilang pong
Mau ping ? Bilang pong
Mau mau bilang ping
Ya pong ya ping
Ya ping ya pong
Tak ya pong tak ya ping
Ya tak ping ya tak pong
Kutakpunya ping
Kutakpunya pong
Pinggir ping kumau pong
Tak tak bilang ping
Pinggir pong kumau ping
Tak tak bilang pong
Sembilu jarakMu merancap nyaring

Jadi

Tidak setiap derita

Jadi luka

Tidak setiap sepi

Jadi duri

Tidak setiap tanda

Jadi makna

Tidak setiap tanya

Jadi ragu

Tidak setiap jawab

Jadi sebab

Tidak setiap seru

Tugas Sastra

*       Tengku Amir Hamzah

*       Nyanyi Sunyi (1954)

*       Buah Rindu (1950)

*       Setanggi Timur (1939)

Amir Hamzah

Amir Hamzah

Amir Hamzah

Tengku Amir Hamzah adalah seorang sastrawan Indonesia angkatan Pujangga Baru. Amir Hamzah bernama lengkap Tengku Amir Hamzah Pangeran Indera Putera lahir di Tanjung Pura, Langkat, Sumatera Timur pada tanggal 28 Februari 1911. Ia lahir dalam lingkungan keluarga bangsawan Melayu dan banyak berkecimpung dalam alam sastra dan kebudayaan Melayu dimana kemampuannya dalam bidang ini tumbuh dan berkembang.

Amir Hamzah bersekolah menengah dan tinggal di Pulau Jawa pada saat pergerakan kemerdekaan dan rasa kebangsaan Indonesia bangkit. Di saat-saat ini ia memperkaya dirinya dengan kebudayaan modern, kebudayaan Jawa, dan kebudayaan Asia yang lain.

Dalam kumpulan sajak Buah Rindu yang ditulis antara tahun 1928 dan tahun 1935, terlihat jelas perubahan perlahan saat lirik pantun dan syair Melayu menjadi sajak yang lebih modern.

Amir Hamzah dibunuh dalam kekacauan revolusi sosial yang terjadi di Sumatera Timur, di awal-awal tahun Indonesia merdeka. Amir Hamzah tidak hanya menjadi penyair besar pada jaman Pujangga Baru, tetapi juga menjadi penyair yang diakui kemampuannya dalam bahasa Melayu-Indonesia hingga sekarang. Di tangannya Bahasa Melayu mendapat suara dan lagu yang unik yang terus dihargai hingga zaman sekarang. Beliau wafat di Kuala Begumit pada 20 Maret 1946 dan dimakamkan di pemakaman mesjid Azizi, Tanjung Pura, Langkat.

 

 

 

Puisi Amir Hamzah

PADAMU JUA

Habis kikis

Segala Cintaku Hilang terbang

Pulang kembali aku padamu

Seperti dahulu

          Kaulah kandil kemerlap

         Pelita jendela di malam gelap

         Melambai pulang perlahan

         Sabar,setia selalu

Satu kekasihku

Aku manusia

Rindu rasa

Rindu rupa

        Dimana engkau

        Rupa tiada

        Suara sayup

        Hanya merangkai kata

Engkau cemburu

Engkau ganas

Mangsa aku dalam cakarmu

Bertukar dengan lepas

              Nanar aku gila sasar

              Sayang berulang padamu jua

              Engkau pelik menarik ingin

              Serupa dara dibalik tirai

              Kekasihmu sunyi

             Menunggu seorang diri

             Lalu waktu-bukan giliranku

            Mati hati-bukan kawankuBerdiri Aku ~ Amir Hamzah

Mac 25, 2007

Berdiri aku di senja senyap
camar melayang menepis buih
melayah bakau mengurai puncak
berjulang datang ubur terkembang

Angin pulang menyejuk bumi
menepuk teluk menghempas emas
lari ke gunung memuncak sunyi
berayun-alun di atas alas

Benang raja mencelup hujung
naik marak menyerak corak
elang leka sayap tergulung
di mabuk warna berarak-arak

Dalam rupa maha sempurna
rindu sendu mengharu kalbu
ingin datang merasa sentosa
mengecap hidup bertentu tuju.

~ Amir Hamzah

 

 

 

         Sutan Takdir Alisjahbana

*       Layar Terkembang (1948)

*       Tebaran Mega (1963)

*       Tak Putus Dirundung Malang

*       Dian jang Tak Kundjung Padam (1948)

*       Anak Perawan Di Sarang Penjamun (1963)

*       Chairil Anwar

*       Kerikil Tadjam (1949)

*       Deru Tjampur Debu (1949)


 

 Chairil Anwar

Foto Chairil Anwar

 

Chairil Anwar (Medan, 26 Juli 1922Jakarta, 28 April 1949) atau dikenal sebagai “Si Binatang Jalang” (dalam karyanya berjudul Aku [1]) adalah penyair terkemuka Indonesia. Bersama Asrul Sani dan Rivai Apin, ia dinobatkan oleh H.B. Jassin sebagai pelopor Angkatan ‘45 dan puisi modern Indonesia.

Masa kecil

Chairil masuk Hollands Inlandsche School (HIS), sekolah dasar untuk orang-orang pribumi waktu penjajah Belanda. [1] Dia kemudian meneruskan pendidikannya di Meer Uitgebreid Lager Onderwijs, sekolah memengah pertama belanda, tetapi dia keluar sebelum lulus.Tidak ada banyak diketahui mengenai orang-tuanya. Dia mulai untuk menulis sebagai seorang remaja tetapi tak satupun puisi awalnya yang ditemukan.[2]

Pada usia sembilan belas tahun, setelah perceraian orang-tuanya, Chairil pindah dengan ibunya ke Jakarta di mana dia berkenalan dengan dunia sastera. Meskipun pendidikannya tak selesai, Chairil menguasai bahasa Inggris, bahasa Belanda dan bahasa Jerman, dan dia mengisi jam-jamnya dengan membaca pengarang internasional ternama, seperti: Rainer M. Rilke, W.H. Auden, Archibald MacLeish, H. Marsman, J. Slaurhoff dan Edgar du Perron. Penulis-penulis ini sangat mempengaruhi tulisannya dan secara tidak langsung mempengaruhi puisi tatanan kesusasteraan Indonesia.

Masa Dewasa

Nama Chairil mulai terkenal dalam dunia sastera setelah pemuatan tulisannya di “Majalah Nisan” pada tahun 1942, pada saat itu dia baru berusia dua puluh tahun. Hampir semua puisi-puisi yang dia tulis merujuk pada kematian.[3]. Chairil ketika menjadi penyiar radio Jepang di Jakarta jatuh cinta pada Sri Ayati tetapi hingga akhir hayatnya Chairil tidak memiliki keberanian untuk mengungkapkannya.[4]

Semua tulisannya yang asli, modifikasi, atau yang diduga diciplak dikompilasi dalam tiga buku : Deru Campur Debu (1949); Kerikil Tajam Yang Terampas dan Yang Putus (1949); dan Tiga Menguak Takdir (1950, kumpulan puisi dengan Asrul Sani dan Rivai Apin).

Akhir Hidup

Vitalitas puitis Chairil tidak pernah diimbangikondisi fisiknya, yang bertambah lemah akibat gaya hidupnya yang semrawut. Sebelum dia bisa menginjak usia dua puluh tujuh tahun, dia sudah kena sejumlah sakit. Chairil Anwar meninggal dalam usia muda karena penyakit TBC[5] Dia dikuburkan di Taman Pemakaman Umum Karet Bivak, Jakarta. Makamnya diziarahi oleh ribuan pengagumnya dari zaman ke zaman. Hari meninggalnya juga selalu diperingati sebagai Hari Chairil Anwar.

Buku-buku

Terjemahan ke dalam bahasa asing

Karya-karya Chairil juga banyak diterjemahkan ke dalam bahasa asing, antara lain bahasa Inggris, Jerman dan Spanyol. Terjemahan karya-karyanya di antaranya adalah:

  • “Sharp gravel, Indonesian poems”, oleh Donna M. Dickinson (Berkeley? California, 1960)
  • “Cuatro poemas indonesios [por] Amir Hamzah, Chairil Anwar, Walujati” (Madrid: Palma de Mallorca, 1962)
  • Chairil Anwar: Selected Poems oleh Burton Raffel dan Nurdin Salam (New York, New Directions, 1963)
  • “Only Dust: Three Modern Indonesian Poets”, oleh Ulli Beier (Port Moresby [New Guinea]: Papua Pocket Poets, 1969)
  • The Complete Poetry and Prose of Chairil Anwar, disunting dan diterjemahkan oleh Burton Raffel (Albany, State University of New York Press, 1970)
  • The Complete Poems of Chairil Anwar, disunting dan diterjemahkan oleh Liaw Yock Fang, dengan bantuan H. B. Jassin (Singapore: University Education Press, 1974)
  • Feuer und Asche: sämtliche Gedichte, Indonesisch/Deutsch oleh Walter Karwath (Wina: Octopus Verlag, 1978)
  • The Voice of the Night: Complete Poetry and Prose of Chairil Anwar, oleh Burton Raffel (Athens, Ohio: Ohio University, Center for International Studies, 1993)

Karya-karya tentang Chairil Anwar

  • Chairil Anwar: memperingati hari 28 April 1949, diselenggarakan oleh Bagian Kesenian Djawatan Kebudajaan, Kementerian Pendidikan, Pengadjaran dan Kebudajaan (Djakarta, 1953)
  • Boen S. Oemarjati, “Chairil Anwar: The Poet and his Language” (Den Haag: Martinus Nijhoff, 1972).
  • Abdul Kadir Bakar, “Sekelumit pembicaraan tentang penyair Chairil Anwar” (Ujung Pandang: Lembaga Penelitian dan Pengembangan Ilmu-Ilmu Sastra, Fakultas Sastra, Universitas Hasanuddin, 1974)
  • S.U.S. Nababan, “A Linguistic Analysis of the Poetry of Amir Hamzah and Chairil Anwar” (New York, 1976)
  • Arief Budiman, “Chairil Anwar: Sebuah Pertemuan” (Jakarta: Pustaka Jawa, 1976)
  • Robin Anne Ross, Some Prominent Themes in the Poetry of Chairil Anwar, Auckland, 1976
  • H.B. Jassin, “Chairil Anwar, pelopor Angkatan ‘45, disertai kumpulan hasil tulisannya”, (Jakarta: Gunung Agung, 1983)
  • Husain Junus, “Gaya bahasa Chairil Anwar” (Manado: Universitas Sam Ratulangi, 1984)
  • Rachmat Djoko Pradopo, “Bahasa puisi penyair utama sastra Indonesia modern” (Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1985)
  • Sjumandjaya, “Aku: berdasarkan perjalanan hidup dan karya penyair Chairil Anwar (Jakarta: Grafitipers, 1987)
  • Pamusuk Eneste, “Mengenal Chairil Anwar” (Jakarta: Obor, 1995)
  • Zaenal Hakim, “Edisi kritis puisi Chairil Anwar” (Jakarta: Dian Rakyat, 1996)

 

 

Puisi Chairil Anwar

MAJU

Bagimu negri

Menyediakan Api

Punah diatas menghamba

Binasa diatas ditinda

       

                Sungguhpun dalam ajal baru tercapai

                Jika hidup harus merasai

Maju

Serbu

Serang

Terjang

 

*       Nugroho Notosusanto

*       Hujan Kepagian (1958)

*       Rasa Sajangé (1961)

*       Tiga Kota (1959)

 

 

*       Nh. Dini

*       Dua Dunia (1950)

*       Hati jang Damai (1960)

*       Ramadhan K.H

*       Api dan Si Rangka

*       Priangan si Djelita (1956)

*       W.S. Rendra

*       Balada Orang² Tertjinta (1957)

*       Empat Kumpulan Sajak (1961)

*       Ia Sudah Bertualang dan tjerita-tjerita pendek lainnja (1963)

*       Goenawan Mohamad

*       Interlude

*       Parikesit

*       Potret Seorang Penyair Muda Sebagai Si Malin Kundang – (kumpulan esai)

*       Asmaradana

*       Misalkan Kita di Sarajevo

*       Sutardji Calzoum Bachri

*       O

*       Amuk

*       Kapak

 

 

 

Taufiq Ismail

Taufiq Ismail, dikenal luas sebagai penyair angkatan 66, adalah lulusan Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Indonesia, Bogor (1963), sekarang Institut Pertanian Bogor. Ia terobsesi untuk mengantarkan sastra ke sekolah-sekolah menengah dan perguruan tinggi.

Selain telah menerima Anugerah Seni Pemerintah RI (1970), ia juga menerima American Field Service International Scholarship untuk mengikuti Whitefish Bay High School di Milwaukee, Amerika Serikat (1956-57).

 

Biodata

Kelamin:

Laki-laki

Tmp/Tgl Lahir:

Bukit Tinggi, Sumatra Barat, 25 June 2007

Agama:

Islam

Alamat Lengkap:

Jalan Utan Kayu Raya No. 66 E

 

Jakarta Timur 13120

 

Daerah Khusus Ibukota Jakarta

 

Indonesia

Telpon:

(021)8504959, 881190

Istri:

Esiyati Ismail (Ati)

Anak:

Abraham Ismail

Riwayat Pendidikan
  • Sekolah Rakyat di Semarang
  • SMP di Bukittinggi, Sumatera Barat
  • SMA di Pekalongan, Jawa Tengah
  • SMA Whitefish Bay di Milwaukee, Wisconsin, AS
  • Fakultas Kedokteran Hewan dan Peternakan UI, Bogor, 1963
Riwayat Jabatan
  • Dosen Institut Pertanian Bogor (1962-1965)
  • Pendiri majalah sastra Horison (1966)
  • Dosen Fakultas Psikologi UI (1967)
  • Pendiri Dewan Kesenian Jakarta (1968)
  • Redaktur Senior Horison dan kolumnis (1966-sekarang)
  • Sekretaris DPH-DKI (1970-1971)
  • Wakil General Manager Taman Ismail Marzuki (1973)
  • Ketua Lembaga Pendidikan dan Kesenian Jakarta (1973-1977)
  • Manager Hubungan Luar PT Unilever Indonesia (1978)
  • Penyair, penerjemah (1978-sekarang)
Pengalaman Organisasi
  • Pelajar Islam Indonesia (PII) tahun 1960
  • Ketua Umum Lembaga Kesenian Alam Minangkabau (1985)

Karya:

  • Buku kumpulan puisinya yang telah diterbitkan: Manifestasi (1963; bersama Goenawan Mohamad, Hartojo Andangjaya, et.al.)
  • Benteng (1966; mengantarnya memperoleh Hadiah Seni 1970)
  • Tirani (1966)
  • Puisi-puisi Sepi (1971)
  • Kota, Pelabuhan, Ladang, Angin, dan Langit (1971)
  • Buku Tamu Museum Perjuangan (1972)
  • Sajak Ladang Jagung (1973)
  • Puisi-puisi Langit (1990)
  • Tirani dan Benteng (1993)
  • Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia (1999)

Penghargaan:

  • American Field Service International Scholarship untuk mengikuti Whitefish Bay High School di Milwaukee, Amerika Serikat (1956-57)
  • Anugerah Seni Pemerintah RI pada 1970
  • SEA Write Award (1997)

 

 

 

 

 

 

Semua berawal semenjak aku memasuki sekolah Sma dan dari sanalah aku mulai mengenal apa itu yang namanya cinta dan awal aku mengenal yang namanya cinta itu dari seseorang yang sangat berarti dan sampai sekarang seseorang itu telah menjadi pacar sejatiku yang sampai kapanpun tak akan pernah aku lupakan dan namanya akan selalu ada dalam kerajaan hatiku.Walaupun sekarang aku takkan pernah lagi tuk bisa bertemu dengannya tapi setidaknya kenangan-kenangan yang pernah ku lalui bersamanya bisa menggantikannya di sisiku..

Ketika itu ku memasuki sekolahan Sma swasta dan pada waktu itu juga dimulainya masa orientasi sekola,aku yang hanya seorang diri tak mempunyai teman tiba-tiba ada seorang cowok yang mengajakku tuk kerja sama dalam artian satu kelompok..”Hai,,Lo sendirian ja?Eh ya..kenalin nama Gw Adiet,Lo?Lo bareng ja ma Gw lagian Gw juga dirian ja nie,maukan?Tapi kalau ga mau juga ya gpp sehz,Gw ga bakalan maksa ko?????tanya dia”Gw Alya,ya udah kalau itu yang Lo mau,Gw juga mau.”jawabku.

Suatu hari masih hari-harinya MOS,Seniorku yang mengajarkan ku di MOS ni menyuruh kami sebagai nak baru tuk mencari sesuatu pohon yang belum ada di sekolah dan Senior itu menyuruh kami tuk mencarinya di hutan.aku dan Aditpun bergegas berangkat ke hutan,sesampainya disana kamipun menemukan pohon yang langka,,Adit yang dari tadi terdiam,mungkin dia terdiam lagi memikirkan sesuatu dan ternyata benar tiba-tiba saja dia membawaku ke tempat dimana ku belum pernah ku kunjungi,tak ku sangka tempat yang Adit maksud tempat yang begitu indah sekali…Kami beristirahat sambil melihat pemandangan dan berbincang2,Adit suka sekali menceritakan kalau dia senang akan keindahan malam yang dihiasi penuh bintang2 dan cahaya bulan,apalagi setiap terjadi rasi bintang uh…dia kayanya suka banget sampe ga percaya dengerin adit ngomong ja aku sampe ngantuk dan tak tersa tiba2 hari telah menjadi pagi dan upzzsz….ternyata aku ketiduran di bahunya adit uh…jadi malu banget nie??????

Dari kedekatanku ma Adit pas Mos itu,aku dan dia jadi mtambah akrab dan sering jalan bareng,ternyata dari sana aku mulai menyukai kepribadian dia dan semua dan ternyata Aditpun mempunyai perasaan yang sama,akhirnya kita memutuskan tuk jadian,,,,,,Hari2ku selalu ku habiskan bersamanya,Kitapun sering pergi ke bukit itu dan bermalam disana.Siang itu aku dan Adit pergi jalan,nonton,belanja dan upzzzz….tiba-tiba lagi asyik-asyiknya aku kebelet buang air dan akupun minta adit tuk mengantarku ke toilet,aku yang tiba duluan di toilet dan pas waktu mau masuk toilet tiba-tiba terdengar suara jeritan dan benturan mobil dan pas dilihat ternyata itu adit,orang yang aku sayangi..akupun langsung bergegas tuk melihat dan merangkulnya,,Adit ucapkan kalau dia sayang dan jangan pernah lupakan aku tuk yang terakhir kalinya…

Setelah kejadian itu hidupku terasa hampa,yang aku bisa kenang hanyalah bayangan dan kenangan bersamanya…hanya bukit itulah yang pertama aku dan dia bertemu yang bisa buatku selalu melihat bayangan adit dan hembusan nafasnya!!!!!!!!

Inilah cerita cintaku bersama seseorang yang pertama mengajarkan aku dalam berbagai hal,cinta yang pertama hadir dan begitu cepatnya meninggalkanku,,,,,Huhhhhh………I Love You Dittttttt!!!!!!!!!!

Ibuku Sayang

Betapa kau menyayangiku
Betapa kau mengasihiku
Tak pernah terucap kata lelah
Engkau selalu ada di sampingku

Engkau selalu ada buatku
Disaat ku menangis,disaat ku lapar
Disaat ku lapar
Kau selalu ada menemaniku

Oh…betapa besar jasamu
Betapa banyak curahan sayang untukku
Namun aku belum bisa membayarnya
Yang bisa ku ucap hanya terima kasih
Ibuku sayang………..

Aliran realisme

Kebohongan

Disaat tangan ini menggires pena
Terpikir dalam imajinasi
Bagaimana ku harus memutuskan
Cinta yang selama ini ku jalani

Apakah ku harus tetap menyayangimu?
Hatiku tak menentu mencoba menebak
Haruskah ku menyayangimu dalam kebohongan?
Diantara cinta,waktu dan pengorbanan

Atau….harus melupakan
Kenangan,janji dan harapan
Yang pernah kau ucap
Namun kau telah membohongiku
Sungguh ku telah dipermainkanmu.

Aliran Realisme

Kesucian Namamu

Ingin ku tulis namamu di langit
Tetapi awan menghapusnya
Ingin ku tulis namamu di lautan
Tetapi ombak menghempasnya

Ingin ku tulis namamu di hamparan pasir
Tetapi angin menghapusnya
Lalu ku tulis namamu di hatiku
Disitulah namamu bertahta

Ku bangun mahligai singgasana
Agar namamu betah di kerajaan hatiku
Walau nafas ini kan terhapus
Walau urat nadi ini kan terputus
Namamu takkan pernah terhapus dalam hatiku

Aliran Surialisme

Berita kepada kawan

Perjalanan ini terasa sangat menyedihkan

Sayang engkau tak duduk di sampingku kawan

Banyak cerita yang mestinya kau saksikan

Di tanah kering bebatuan

Tubuhku terguncang dihempas batu jalanan

Hatiku bergetar menempah kering rerumputan

Perjalanan inipun seperti jadi saksi

Gembala kecil menangis sedih

Kawan coba dengar apa jawabnya

Ketika ia ku tanya mengapa bapak ibunya

Telah lama mati ditelan bencana tanah ini

Sesampainya di laut ku kabarkan semuanya

Kepada karang,kepada ombak,kepada matahari

Tetapi semua diam,tetapi semua bisu

Tinggal aku sendiri terpaku menatap langit

Barangkali di sana ada jawabnya

Mengapa di tanah airku terjadi bencana

Mungkin tuhan mulai bosan melihat tingkah kita

Yang selalu salah dan bangga dengan dosa-dosa

Atau alam mulai enggan bersahabat dengan kita

Coba kita bertanya pada rumput yang bergoyang.

Ebiet G.Ade

Aliran:Idealisme

Pesan:Memang perjalanan hidup selalu penuh dengan cobaan tapi kita harus tetap tegar seperti batu karang dan jangan menunjukkan kelemahan kita,biarlah kehidupan ini yang menjadi saksi bisu dan kita juga harus berusaha agar kehidupan kita menjadi lebih baik dan tanah air kita ikut pula merasakan kedamaian hidup kita.

Majas:Personifikasi

karena dalam lagu ini ada benda yang bergerak atau bertingkah laku seperti manusia seperti”Tubuhku terguncang dihempas batu jalanan,dll”

« Newer Posts - Tulisan Sebelumnya »