Feeds:
Pos
Komentar

KuntiLanak 3

hai….SoBat-sobaT pengguna Blog,pernahkan Lihat Film yang berjudul kuntilanak3????Uh…Filmnya serem abiszz,,film yang menceritakan kehidupan seorang gadis yang bisa memanggil kuntilanak karena turun temurun keluarga gadis itu punya kelebihan untuk memanggil kuntilanak.jadi,karena gadis itu ingin menghilangkan kelebihan yang aneh itu,dia mencari nenek buyutnya ke hutan yang penuh dengan kuntilanak-kuntilanak atau bisa dikatakan neraka…

pokoknya nonton dehHHh Filmnya karena aku gak bisa menceritakannya lebih lanjut cozzz biasa keterbatasan waktu untuk nulisnya bisnya kan aku nulis di skul,tar dehhh aku sambung lagi,,nonton yah,Dijamin seru dan Horor abizzzzz…!!!!!!!!!!!!

SaHabat

BukanLah

Mtk

Yang dapat dihitung nilainya

Bukan pula

EKONOMI

Yang mengharapkan materi

Apalagi PKN

Yang menuntut UUD

Tapi Sahabat adalah

Sejarah

Yang dapat dikenang sepanjang masa…..

AyaT AyaT CintA

“Maafkan bila ku tak sempurn

Cinta ini tak mungkin ku cegah

Ayat ayat cinta bercerita

Cintaku padamu……..”

(Rossa,Ayat ayat cinta)

Pernahkah anda denger novel yang berjudul”ayat ayat cinta yang ditulis olehHabiburrahman El Shirazy?atau mungkin ada sebagian temen-temen kamu yang sudah baca novel itu.Novel ayat ayat cinta emang sudah menjadi Best seller,tapi sekarang ada yang lebih ditunggu-tunggu.

YupZZZz….kehadiran filmnya yang udah lama ditungguin banyak penggemar novel tersebut dan yang pasti buat kita-kita yang doyan banget nonton di bioskop.

Film garapan Hanung Bramantyo ini emang nyeritain cerita cinta tapi bukan cerita cinta biasa.Di film ini juga kita bisa melihat bagaimana ngehadapin hidup dengan cara islami.Soundtrek dari film yang durasinya +-120 menit ini salah satunya diisi oleh Rossa yang nyanyian lagudengan berjudul yang sama,yaitu ayat ayat cinta.udah sering kan denger lagu itu…?

Film ayat ayat cinta mengisahkan tentang Fahri bin Abdillah(Fedi Nuril)yang sedang berusaha mengejar masternya di Al Azhar.Banyak target yang harus dicapai Fahri dan semua dilakukannya dengan antusiasme kecuali satu hal,yaitu menikah.Maria Girgis yang diperankan oleh Carrisa Putri ternyata mengagumi Fahri,tapi kekegumannya hanya tercurahkan dalam buku hariannya saja.Dalam kisah dikehidupan Fahri,ia bertemu dengan banyak wanita seperti,Nurul(Melani Putri),Noura(Zaskia Adya Mecca)dan juga Aisyah(Rianti Cartwright).Saat Fahri membela islam dari tuduhan kolot dan kaku,Aisyah jatuh cinta pada fahri,begitupun sebaliknya.lalu,bagaimana Fahri menghadapi ini semua?Bisakah ia menjalani ini semua?Lalu,siapakah wanita yang akan dipilihnya?

Untuk itu kita harus tonton Film yang mengambil lokasi di mesir ini.Menurut Hanung,ini bukan seperti film remaja atau film horor yang kini sedang marak diputar di Bioskop-bioskop.Nonton ya………..!!!!!!!!!!

AyaT AyaT CiNta

By:Rossa

D eru Pasir di Padang tandus

Segersang pemikiran hati

Terkisah ku diantara cinta yang

rumit

Bila keyakinanku datang

Kasih bukan sekedar cinta

Pengorbanan cinta yang agung

Ku pertaruhkan

reff:

Maafkan bila ku tak sempurna

Cinta ini tak mungkin ku cegah

ayat ayat cinta bercerita

Cintaku padamu

Bila bahagia mulai menyentuh

Seakan ku bisa hidup lebih lama

namun ku harus tinggalkan cinta

Ketika ku bersujud

Bila keyakinanku datang

Kasih bukan sekedar cinta

Pengorbanan cinta yang agung

Ku pertaruhkan

repeat reff

Ketika ku bersujud

Tugas Sastra

Tugas Sastra

 

 

1.Puisi

  

   Doa

Tuhanku

Dalam termangu

Aku masih menyebut namamu

Biar susah sungguh

Mengingat kau penuh seluruh

Cayamu panas suci

Tinggal kerlip lilin dikelam sunyi

Tuhanku

Aku hilang bentuk

Remuk

Tuhanku

Aku mengembara di negeri asing

Tuhanku

Di pintumu aku mengetuk

Aku tidak bias berpaling

 

Secara ekstrinsik aspek yang menonjol dalam puisi di atas adalah….

A.Sosial                      C.Politik                    E.Ekonomi

B.Budaya                    D.agama

 

2.Aliran yang nampak dalam puisi di atas termasuk aliran….

   A.Idealisme             C.Realisme                E.Romantisme

   B.Mistisisme           D.Surialisme

 

3.Puisi seperti di atas ditulis oleh sastrawan angkatan….

   A.Angkatan 45        C.Balai pustaka         E.1961

   B.Pujangga baru      D.1953

 

4.Jika tidak ingin masuk neraka

   Maka jangan berbuat dosa

   Jika ingin bahagia di akhirat

   Janganlah pernah tinggalkan shalat

   Kalau kamu berbuat maksiat

   Pastilah hidupmu akan tersesat

   Apabila kita seringn berdoa

   Maka kitakan bahagia

   Jika kamu tidak mau berbuat dosa

   Maka ingatlah pada yang kuasa

   Apabila hidupmu ingin dipenuhi kebahagiaan

   Maka kita harus selalu beriman

 

Puisi di atas termasuk kedalam puisi…

A.Pantun                     C.Soneta            E.Bidal

B.Gurindam                D.Disticon

 

5.Yang termasuk cirri-ciri pantun adalah,kecuali…

   A.Tiap baris terdiri dari 4 baris

   B.Tiap baris terdiri dari 8-12 suku kata

   C.Pola rima pantun abab

   D.Baris kesatu dan kedua merupakan sampiran sedangkan baris ketiga dan keempat   merupakan isi

   E.Menceritakan karakter tokoh dengan sempurna

 

6.Dialog sesaat antara pemain dan penonton,termasuk arti dari kata….

   A.Nada                 C.Rima                 E.Solilokuy

   B.Monolog           D.Prolog

 

7.”Saya yakin anda akan puas dengannya.”Katanya

Dia telah kami pilih sesuai dengan persyaratan computer.Tidak ada yang melebihinyadari seratus sepuluh juta wanita yang memenuhi syarat di Amerika USA sebagai istri anda.Kami memilih berdasarkan suku,etnik,agama,dan latar belakang regional…..

 

Masalah yang kebetulan memiliki kesamaan dengan sebagian budaya Indonesia yang tersirat dalam penggalan cerpen di atas adalah…..

A.Sebagian laki-laki menggunakan jasa perantara untuk berkenalan dengan seorang gadis

B.Seorang perempuan idaman harus memenuhi persyaratan computer

C.Pemilihan calon istri ditinjau dari suku,agama,etnik dan latar belakang regional

D.Perantara mempertemukan pria dan wanita di suatu kantor

E.Seorang laki-laki rela duduk berlama-lama menunggu kenalan baru

 

8.Perhatikan puisi di atas!!!

   Teja dan cerawat masih gemilang

   Memurahkan bintang mulia raya

   Menjadi pudar padam cahaya

   Timbul tenggelam berulang-ulang

 

Berdasarkan jumlah baris tiap bait,puisi di atas berbentuk…..

  A.Pantun            C.Kuatren           E,Puisi bebas

  B.Seloka            D.Talibun

 

9.Marianne Katopo juga pernah menulis cerita-cerita dongeng dalam Belanda,waktu ia masih kecil,tahun 60-an ia memulai menulis cerpen-cerpen untuk surat kabar dan majalah.Pada tahun 1975 novelnya yang berjudul Raumanen,mendapat hadiah harapan pada sayembara penulisan novel……….

 

Unsur yang diungkapkan dalam penggalan resensi di atas adalah……. 

 A.Tentang kepengarangan si pengarang

 B.Riwayat hidup pengarang

 C.Buku-buku terkenal yang di tulisnya

 D.Identitas buku

 E.KEunggulan cerita

 

10.Jam satu malam:”Cuaca gulita dan murung,hujan turun selembut embun namun cukup membasahkan.Hati-hati Kasim memimpin anak buahnya menuruni tebing sangat hati-hati,menggendong bayi pada punggungnya,sebelah kiri.”

                                                         (Sungai Nugroho Notosusanto)

Penggalan cerpen di atas menunjukan unsure instrinsik……

  A.Tema              C.Penokohan            E.Latar

  B.Alur                D.Amanat

 

11.Prabawati beberapa hari tinggal bersedih karena kepergian suaminya untuk mencari nafkah.Tetapi,sahabat-sahabatnya membujuknya dengan menyuruhnya mencari seorang kekasih.Prabawati menetapkan untuk mencoba berbuat demikian,lalu berhiaslah dia.Burung bayan betina mencoba mencegah perbuatannya itu dengan memperlihatkan betapa salahnya kelakuan demikian dan dengan menempelkannya.Tetapi,hasilnya ia hamper dipatahkannya lehernya oleh prabawati,untunglah ia dapat lari menghindarkannya.

 

Pesan moral yang tersirat dari penggalan cerpen di atas adalah…….

  A.Sayangilah binatang peliharaan anda!

  B.Jangan turuti bujukan yang menyesatkan!

 C.Jangan menyakiti pihak yang mau memperingatkan kesalahan kita!

 D.Jadilah seorang suami yang mau bekerja keras!

 E.Bersabarlah dengan siapapun!

 

12.Maksud pernyataan”Setinggi-tingginya ia menjadi perhiasan,menjadi permainan yang dimulia-muliakan selagi disukai,tetapi dibuang dan ditukar apabila telah kabur cahayanya,telah hilang sarinya.”

 

Sejalan dengan pribahasa……..

 A.Sepandai-pandainya tupai melompat,sekali gagal juga

 B.Habis manis sepah dibuang

 C.Bunga gugur putikpun gugur

 D.Tak ada gading yang tak retak

 E.Sudah jatuh tertimpa tangga

 

13…………….

    Indra menjadi duda bukan karena kematian istrinya,melainkan karena perceraian yang didahului pertengkaran seru.Begitu serunya sehingga keluarga Indra dan Nur ikut menengahi pertengkaran itu.Hasilnya berakhir dalam perceraian.Hesti tahu benar dalam perceraian itu Indra yang bersalah karena mengkhianati perkawinannya.

                                                                           (Cerpen Hesty oleh Y.S Marjo)

Watak Indra pada cerpen di atas adalah……….

 A.Teguh Pendirian

 B.Pemarah dan pembenci

 C.Pendiam tapi pendendam

 D.Egois dan tak penyayang

 E.Tidak jujur dan tidak terus terang

 

14.Satu kekasihku

   Aku manusia

   Rindu rasa

  Rindu rupa

  Di mana engkau

  Rupa tiada

 Suara sayup

 Hanya kata merangkai hati

 

Tema puisi Amir Hamzah di atas adalah……….

 A.Percintaan          C.Kerinduan             E.Kepanasan

 B.Kemanusiaan     D.Kepanaan

 

15.1.Priangan si jelita,Ramadhan K.H

     2.Jalan tak ada ujung,Mochtar Lubis

     3.Keberangkatan,N.H Dini

     4.Robohnya surau kami,A.A Navis

     5.Buah Rindu,Chairil Anwar

 

Uraian yang sesuai antara judul buku dan pengarang yang benar,kecuali….

  A.Nomer 1               C.Nomer 3         E.Nomer 5

  B.Nomer 2               D.Nomer 4

Novel Kumpulan Balai Pustaka

Karya MERARI SIREGAR

Novel

  1. Azab dan Sengsara. Jakarta: Balai Pustaka. Cet. 1 tahun 1920,Cet.4 1965.
  2. Binasa Karena Gadis Priangan. Jakarta: Balai Pustaka 1931.
  3. Cerita tentang Busuk dan Wanginya Kota Betawi. Jakarta: Balai Pustaka 1924.
  4. Cinta dan Hawa Nafsu. Jakarta: t.th.

Karya MARAH ROESLI

Terjemahannya: Gadis yang Malang (novel Charles Dickens, 1922).

Karya ABDUL MUIS

Karya TULIS SUTAN SATI

  • Tak Disangka (1923)
  • Sengsara Membawa Nikmat (1928)
  • Syair Rosina (1933)
  • Tjerita Si Umbut Muda (1935)
  • Tidak Membalas Guna
  • Memutuskan Pertalian (1978)
  • Sabai nan Aluih: cerita Minangkabau lama (1954)

Karya SUMAM HASIBUAN

  • “Pertjobaan Setia” (1940)
  • “Mentjari Pentjuri Anak Perawan” (1957)
  • “Kasih Ta’ Terlarai” (1961)
  • “Kawan Bergelut” (kumpulan cerpen)
  • “Tebusan Darah

Karya Haji ABDUL MALIK KARIM

  1. Khatibul Ummah, Jilid 1-3. Ditulis dalam huruf Arab.
  2. Si Sabariah. (1928)
  3. Pembela Islam (Tarikh Saidina Abu Bakar Shiddiq),1929.
  4. Adat Minangkabau dan agama Islam (1929).
  5. Ringkasan tarikh Ummat Islam (1929).
  6. Kepentingan melakukan tabligh (1929).
  7. Hikmat Isra’ dan Mikraj.
  8. Arkanul Islam (1932) di Makassar.
  9. Laila Majnun (1932) Balai Pustaka.
  10. Majallah ‘Tentera’ (4 nomor) 1932, di Makassar.
  11. Majallah Al-Mahdi (9 nomor) 1932 di Makassar.
  12. Mati mengandung malu (Salinan Al-Manfaluthi) 1934.
  13. Di Bawah Lindungan Ka’bah (1936) Pedoman Masyarakat,Balai Pustaka.
  14. Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck (1937), Pedoman Masyarakat, Balai Pustaka.
  15. Di Dalam Lembah Kehidupan 1939, Pedoman Masyarakat, Balai Pustaka.
  16. Merantau ke Deli (1940), Pedoman Masyarakat, Toko Buku Syarkawi.
  17. Margaretta Gauthier (terjemahan) 1940.
  18. Tuan Direktur 1939.
  19. Dijemput mamaknya,1939.
  20. Keadilan Ilahy 1939.
  21. Tashawwuf Modern 1939.
  22. Falsafah Hidup 1939.
  23. Lembaga Hidup 1940.
  24. Lembaga Budi 1940.
  25. Majallah ‘SEMANGAT ISLAM’ (Zaman Jepun 1943).
  26. Majallah ‘MENARA’ (Terbit di Padang Panjang), sesudah revolusi 1946.
  27. Negara Islam (1946).
  28. Islam dan Demokrasi,1946.
  29. Revolusi Pikiran,1946.
  30. Revolusi Agama,1946.
  31. Adat Minangkabau menghadapi Revolusi,1946.
  32. Dibantingkan ombak masyarakat,1946.
  33. Didalam Lembah cita-cita,1946.
  34. Sesudah naskah Renville,1947.
  35. Pidato Pembelaan Peristiwa Tiga Maret,1947.
  36. Menunggu Beduk berbunyi,1949 di Bukittinggi,Sedang Konperansi Meja Bundar.
  37. Ayahku,1950 di Jakarta.
  38. Mandi Cahaya di Tanah Suci. 1950.
  39. Mengembara Dilembah Nyl. 1950.
  40. Ditepi Sungai Dajlah. 1950.
  41. Kenangan-kenangan hidup 1,autobiografi sejak lahir 1908 sampai pd tahun 1950.
  42. Kenangan-kenangan hidup 2.
  43. Kenangan-kenangan hidup 3.
  44. Kenangan-kenangan hidup 4.
  45. Sejarah Ummat Islam Jilid 1,ditulis tahun 1938 diangsur sampai 1950.
  46. Sejarah Ummat Islam Jilid 2.
  47. Sejarah Ummat Islam Jilid 3.
  48. Sejarah Ummat Islam Jilid 4.
  49. Pedoman Mubaligh Islam,Cetakan 1 1937 ; Cetakan ke 2 tahun 1950.
  50. Pribadi,1950.
  51. Agama dan perempuan,1939.
  52. Muhammadiyah melalui 3 zaman,1946,di Padang Panjang.
  53. 1001 Soal Hidup (Kumpulan karangan dr Pedoman Masyarakat, dibukukan 1950).
  54. Pelajaran Agama Islam,1956.
  55. Perkembangan Tashawwuf dr abad ke abad,1952.
  56. Empat bulan di Amerika,1953 Jilid 1.
  57. Empat bulan di Amerika Jilid 2.
  58. Pengaruh ajaran Muhammad Abduh di Indonesia (Pidato di Kairo 1958), utk Doktor Honoris Causa.
  59. Soal jawab 1960, disalin dari karangan-karangan Majalah GEMA ISLAM.
  60. Dari Perbendaharaan Lama, 1963 dicetak oleh M. Arbie, Medan; dan 1982 oleh Pustaka Panjimas, Jakarta.
  61. Lembaga Hikmat,1953 oleh Bulan Bintang, Jakarta.
  62. Islam dan Kebatinan,1972; Bulan Bintang.
  63. Fakta dan Khayal Tuanku Rao, 1970.
  64. Sayid Jamaluddin Al-Afhany 1965, Bulan Bintang.
  65. Ekspansi Ideologi (Alghazwul Fikri), 1963, Bulan Bintang.
  66. Hak Asasi Manusia dipandang dari segi Islam 1968.
  67. Falsafah Ideologi Islam 1950(sekembali dr Mekkah).
  68. Keadilan Sosial dalam Islam 1950 (sekembali dr Mekkah).
  69. Cita-cita kenegaraan dalam ajaran Islam (Kuliah umum) di Universiti Keristan 1970.
  70. Studi Islam 1973, diterbitkan oleh Panji Masyarakat.
  71. Himpunan Khutbah-khutbah.
  72. Urat Tunggang Pancasila.
  73. Doa-doa Rasulullah S.A.W,1974.
  74. Sejarah Islam di Sumatera.
  75. Bohong di Dunia.
  76. Muhammadiyah di Minangkabau 1975,(Menyambut Kongres Muhammadiyah di Padang).
  77. Pandangan Hidup Muslim,1960.
  78. Kedudukan perempuan dalam Islam,1973.
  79. [Tafsir Al-Azhar][1] Juzu’ 1-30, ditulis pada masa beliau dipenjara oleh Sukarno.

Karya ADINEGORO

Karya NUR SUTAN ISKANDAR

  1. Apa Dayaku karena Aku Perempuan (Jakarta: Balai Pustaka, 1923)
  2. Cinta yang Membawa Maut (Jakarta: Balai Pustaka, 1926)
  3. Salah Pilih (Jakarta: Balai Pustaka, 1928)
  4. Abu Nawas (Jakarta: Balai Pustaka, 1929)
  5. Karena Mentua (Jakarta: Balai Pustaka, 1932)
  6. Tuba Dibalas dengan Susu (Jakarta: Balai Pustaka, 1933)
  7. Dewi Rimba (Jakarta: Balai Pustaka, 1935)
  8. Hulubalang Raja (Jakarta: Balai Pustaka, 1934)
  9. Katak Hendak Jadi Lembu (Jakarta: Balai Pustaka, 1935)
  10. Neraka Dunia (Jakarta: Balai Pustaka, 1937)
  11. Cinta dan Kewajiban (Jakarta: Balai Pustaka, 1941)
  12. Jangir Bali (Jakarta: Balai Pustaka, 1942)
  13. Cinta Tanah Air (Jakarta: Balai Pustaka, 1944)
  14. Cobaan (Turun ke Desa) (Jakarta: Balai Pustaka, 1946)
  15. Mutiara (Jakarta: Balai Pustaka, 1946)
  16. Pengalaman Masa Kecil (Jakarta: Balai Pustaka, 1949)
  17. Ujian Masa (Jakarta: JB Wolters, 1952, cetakan ulang)
  18. Megah Cerah: Bacaan untuk Murid Sekolah Rakyat Kelas II (Jakarta: JB Wolters, 1952)
  19. Megah Cerah: Bacaan untuk Murid Sekolah Rakyat Kelas III (Jakarta: JB Wolters, 1952)
  20. Peribahasa (Karya bersama dengan K. Sutan Pamuncak dan Aman Datuk Majoindo. Jakarta: JB Wolters, 1946)
  21. Sesalam Kawin (t.t.)

PUISI AMIR HAMZAH

01 Nyanyian Mesir Purba

Kurnia kami, hari berbuahkan rahman,

Berbungakan suka.

Penghulu segala dewa!

Marahlah tuan dan lihat.

Urap dan menyan kami persembahkan

Kusuma dan bakung pedandan leher

Dinda tuan intan rupawan,

Yang siuman dalam hatimu

Yang merangkai pada sisimu.

Marilah diri! Gambang dan dendang

Merdu mengalun, Hari Duka

Telah lenyap, sukacita bertabur ria,

Sampai tuan tiba ke benua, yang diam semata-mata

Lepaslah tuan dari kami selama-lamanya.

 

02 Nyanyian Syiking

‘Wah!’, kesahnya, ‘kau dengar ayam jantan, ia memanggil?’

‘Tidak’, jawabnya,

‘Tidak, malam kelam dan tinggi,

Bukan itu kokok ayam, kekasihku’

‘Pintaku, bangkit, singkapkan tabir

Di tepi, dan tanya olehmu kan langit, sahabatku’

Lompat ia: ‘Celaka kita! Bintang pagi.

Pucat meningkat dari kaki langit’

‘Merah fajar’ – bisiknya takut, ‘Sekarang mesti engkau pergi!’

‘Bagaimana aku menanggungnya?’

‘Hai, Sebelumnya engkau pergi, balaskan setan itu,

Kejam ia menceraikan kita!’

‘Ambil busurmu, tujukan panah ini

Ayam jantan hatinya tepati!’

03 Nyanyian Jallaludin El Rumi

Jangan disalahkan dunia karena belenggumu,

Sebab banyakan mawar dari duri.

Jangan disebutkan dunia ini penjara,

Karena inginmu itulah yang membangunkan duka.

Jangan pula tanyakan penghabisan rahasia,

Satu dalam dua, atau baik, tau jahat!

Usaha pula katakan kasih meninggalkan tuan,

Jangan ia dicari di pekan dan jalan!

Ta’ guna takutkan siksa mati,

Sebab takut itulah mendatangkan sengsara,

Janganlah buru kijang cita indria,

Kalau terburu singa sesalan.

Jangan hatiku, mengekang diri,

Jadi ta’ usah malaikat menolong engkau.

04 Nyanyian Farid

Farid, jika manusia memukul senda

Jangan memukul pula

Cium kakinya

Lalu …

Dan lupa …

Keduanya …

Yang menjadikan terkandung

Dalam segala yang dijadikan

Dan yang dijadikan

Tersimpul dalam yang menjadikan

Bagaimana engkau berani

Ya Farid,

Menyumpah sesuatu yang buruk?

Tiada ada melainkan ia

05 Nyanyian Kabir I

Hatiku, hatiku, Sukma segala sukma

Hatiku, hatiku, Guru segala guru

Telah hampir

Bangkit, bangkit hatiku dan kucup

KakiNya

Kaki Guru maha-raya,

Supaya detikan cintamu

Memenuhi seluruh Kaki Gurumu

Tuan tidur, dari abad ke abad

Jagalah, hatiku, jaga

Pada subuh sentosa,

Jika embun menyejuk rumput.

Hendakkah tuan selalu bisu selaku batu,

Hatiku, aduh hatiku?

 

06 Nyanyian Kabir II

Ceritakan, undanku, kabaranmu kawi

Dari mana datangmu? Kemana terbangmu?

Di mana engkau berhenti melipat sayapmu?

Pada siapa engkau nyanyikan laguan malammu?

Kalau nanti pagi-pagi engkau terjaga, undanku

Terbang, melayang tinggi dan ikut jalanku.

Ikutkan daku ke negeri sana, mana susah dan was-was

Tiada mungkin bernafas, dan maut,

Malaikat hitam, tiada lagi memberi negeri

Musim cuaca lagi membunga di pucuk kayu

Harum panas ditebar angin sepoi:

Aku di dalamnya, ia di dalamku.

Kumbang hatiku menyelam dalam bunga

Dan tiada berhasrat lagi


07 Nyanyian Mira – Bai

Pada kala aku mengambil air dari sungai Yamuna,

Dipandang Krishna senda

Dengan mataNya yang raya

Tertawa bertanya

Kendiku telungkup aku pun lalu

Penuh heran dan ragu

Semenjak itu semayam Ia dalam kalbuku

Krishna berambut ikal.

Hentikan segala mantera, jauhkan penawar semua

Lepaskan aku dari akar dan jamu!

Bawakan daku Krishna berambut hitam

Bawakan daku Krishna bermata cuaca!

Alisnya, busurnya – Pandangnya, panahnya

Dibidiknya – lepaskan – tepat

 

08 Hanyut Aku

Hanyut aku, kekasihku!

Hanyut aku!

Ulurkan tanganmu, tolong aku.

Sunyinya sekelilingku!

Tiada suara kasihan, tiada angin mendingin hati,

Tiada air menolak ngelak.

Dahagaku kasihmu, hauskan bisikmu,

Mati aku, sebabkan diammu.

Langit menyerkap, air berlepas tangan,

Aku tenggelam.

Tenggelam dalam malam.

Air di atas mendidih keras.

Bumi di bawah menolak keatas.

Mati aku, kekasihku, mati aku!

09 Mengawan

Rengang aku daripadaku, mengikut kawalku mengawan naik.

Mewajah kebawah, terlentang aku, lemah lunak,

Kotor terhampar, paduan benda empat perkara.

Datang pikiran membentang kenang,

Membunga cahaya cuaca lampau,

Menjadi terang mengilau kaca.

Lewat lambat aku dan dia, ria tertawa, bersedih suka,

Berkasih pedih, bagai merpati bersambut mulut.

Tersenyum sukma, kasihan serta.

Benda mencintai benda …

Naik aku mengawan rahman, mengikut kawalku membawa warta.

Kuat, sayapku kuat, bawakan aku, biar sampai membidai-belai

Celah tersentuh, di kursi kesturi.

10 Doa

Dengan apakah kubandingkan pertemuan kita, kekasihku?

Dengan senja samar sepoi,

Pada masa purnama meningkat naik,

Setelah menghalaukan panas terik.

Angin malam menghembus lemah,

Menyejuk badan, melambung rasa menanyang pikir,

Membawa angan ke bawah kursimu

Hatiku terang menerima katamu,

Bagai bintang memasang lilinnya.

Kalbuku terbuka menunggu kasihmu,

Bagai sedap-malam menyirak kelopak.

Aduh kekasihku, isi hatiku dengan katamu, penuhi dadaku

Dengan cahayamu, biar bersinar mataku sendu,

Biar berbinar gelakku rayu!

11 Memuji Dikau

Kalau aku memuji Dikau,

Dengan mulut tertutup, mata tertutup,

Sujudlah segalaku, diam terbelam,

Di dalam kalam asmara raya.

Turun kekasihmu,

Mendapatkan daku duduk bersepi, sunyi sendiri.

Dikucupnya bibirku, dipautnya bahuku,

Digantunginya leherku, hasratkan suara sayang semata.

Selagi hati bernyanyi, sepanjang sujud semua segala,

Bertindih ia pada pahaku, meminum ia akan suaraku …

Dan, iapun melayang pulang,

Semata cahaya,

Lidah api dilingkung kaca,

Menuju restu, sempana sentosa.

12 Panji Di Hadapanku

Kau kibarkan panji di hadapanku.

Hijau jernih di ampu tongkat mutu-mutiara.

Di kananku berjalan, mengiring perlahan,

Ridlamu rata, dua sebaya,

Putih-putih, penuh melimpah, kasih persih.

Gelap-gelap kami berempat, menunggu-nunggu,

Mendengar-dengar, suara sayang, panggilan-panjang,

Jatuh terjatuh, melayang-layang,

Gelap-gelap kami berempat, meminta-minta,

Memohon-mohon, moga terbuka selimut kabut,

Pembungkus halus, nokta utama,

Jika nokta terbuka-raya, jika kabut tersingkap semua

Cahaya ridla mengilau kedalam

Nur rindu memancar keluar.

13 Kurnia

Kau kurniai aku,

Kelereng kaca cerah cuaca,

Hikmat raya tersembunyi dalamnya,

Jua bahaya dikandung kurnia, jampi kau beri,

Menundukkan kepala naga angkara.

Kelereng kaca kilauan kasih,

Menunjukkan daku tulisan tanganMu

Memaksa sukmaku bersorak raya

Melapangkan dadaku, senantiasa sentosa

Sebab kelereng guli riwarni,

Kuketahui langit tinggi berdiri,

Tanah rendah membukit datar.

Kutilik diriku, dua sifat mesra satu:

Melangit tinggi, membumi keji.

 

PRAJURIT JAGA MALAM

Waktu jalan. Aku tidak tahu apa nasib waktu ?
Pemuda-pemuda yang lincah yang tua-tua keras,
bermata tajam
Mimpinya kemerdekaan bintang-bintangnya
kepastian
ada di sisiku selama menjaga daerah mati ini
Aku suka pada mereka yang berani hidup
Aku suka pada mereka yang masuk menemu malam
Malam yang berwangi mimpi, terlucut debu……
Waktu jalan. Aku tidak tahu apa nasib waktu !

(1948)
Siasat,
Th III, No. 96
1949

MALAM

Mulai kelam
belum buntu malam
kami masih berjaga
–Thermopylae?-
– jagal tidak dikenal ? –
tapi nanti
sebelum siang membentang
kami sudah tenggelam hilang

Zaman Baru,
No. 11-12
20-30 Agustus 1957

KRAWANG-BEKASI

Kami yang kini terbaring antara Krawang-Bekasi
tidak bisa teriak “Merdeka” dan angkat senjata lagi.
Tapi siapakah yang tidak lagi mendengar deru kami,
terbayang kami maju dan mendegap hati ?

Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika dada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak
Kami mati muda. Yang tinggal tulang diliputi debu.
Kenang, kenanglah kami.

Kami sudah coba apa yang kami bisa
Tapi kerja belum selesai, belum bisa memperhitungkan arti 4-5 ribu nyawa

Kami cuma tulang-tulang berserakan
Tapi adalah kepunyaanmu
Kaulah lagi yang tentukan nilai tulang-tulang berserakan

Atau jiwa kami melayang untuk kemerdekaan kemenangan dan harapan
atau tidak untuk apa-apa,
Kami tidak tahu, kami tidak lagi bisa berkata
Kaulah sekarang yang berkata

Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika ada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak

Kenang, kenanglah kami
Teruskan, teruskan jiwa kami
Menjaga Bung Karno
menjaga Bung Hatta
menjaga Bung Sjahrir

Kami sekarang mayat
Berikan kami arti
Berjagalah terus di garis batas pernyataan dan impian

Kenang, kenanglah kami
yang tinggal tulang-tulang diliputi debu
Beribu kami terbaring antara Krawang-Bekasi

(1948)
Brawidjaja,
Jilid 7, No 16,
1957

DIPONEGORO

Di masa pembangunan ini
tuan hidup kembali
Dan bara kagum menjadi api

Di depan sekali tuan menanti
Tak gentar. Lawan banyaknya seratus kali.
Pedang di kanan, keris di kiri
Berselempang semangat yang tak bisa mati.

MAJU

Ini barisan tak bergenderang-berpalu
Kepercayaan tanda menyerbu.

Sekali berarti
Sudah itu mati.

MAJU

Bagimu Negeri
Menyediakan api.

Punah di atas menghamba
Binasa di atas ditindas
Sesungguhnya jalan ajal baru tercapai
Jika hidup harus merasai

Maju
Serbu
Serang
Terjang

(Februari 1943)
Budaya,
Th III, No. 8
Agustus 1954

PERSETUJUAN DENGAN BUNG KARNO

Ayo ! Bung Karno kasi tangan mari kita bikin janji
Aku sudah cukup lama dengan bicaramu
dipanggang diatas apimu, digarami lautmu
Dari mulai tgl. 17 Agustus 1945
Aku melangkah ke depan berada rapat di sisimu
Aku sekarang api aku sekarang laut

Bung Karno ! Kau dan aku satu zat satu urat
Di zatmu di zatku kapal-kapal kita berlayar
Di uratmu di uratku kapal-kapal kita bertolak & berlabuh

AKU

Kalau sampai waktuku
‘Ku mau tak seorang kan merayu

Tak perlu sedu sedan itu

Aku ini binatang jalang
Dari kumpulannya terbuang

Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang menerjang

Luka dan bisa kubawa berlari
Berlari
Hingga hilang pedih peri

Dan aku akan lebih tidak perduli

Aku mau hidup seribu tahun lagi

Maret 1943

PENERIMAAN

Kalau kau mau kuterima kau kembali
Dengan sepenuh hati

Aku masih tetap sendiri

Kutahu kau bukan yang dulu lagi
Bak kembang sari sudah terbagi

Jangan tunduk! Tentang aku dengan berani

Kalau kau mau kuterima kembali
Untukku sendiri tapi

Sedang dengan cermin aku enggan berbagi.

Maret 1943

HAMPA

kepada sri

Sepi di luar. Sepi menekan mendesak.
Lurus kaku pohonan. Tak bergerak
Sampai ke puncak. Sepi memagut,
Tak satu kuasa melepas-renggut
Segala menanti. Menanti. Menanti.
Sepi.
Tambah ini menanti jadi mencekik
Memberat-mencekung punda
Sampai binasa segala. Belum apa-apa
Udara bertuba. Setan bertempik
Ini sepi terus ada. Dan menanti.

DOA

kepada pemeluk teguh

Tuhanku
Dalam termangu
Aku masih menyebut namamu

Biar susah sungguh
mengingat Kau penuh seluruh

cayaMu panas suci
tinggal kerdip lilin di kelam sunyi

Tuhanku

aku hilang bentuk
remuk

Tuhanku

aku mengembara di negeri asing

Tuhanku
di pintuMu aku mengetuk
aku tidak bisa berpaling

13 November 1943

SAJAK PUTIH

Bersandar pada tari warna pelangi
Kau depanku bertudung sutra senja
Di hitam matamu kembang mawar dan melati
Harum rambutmu mengalun bergelut senda

Sepi menyanyi, malam dalam mendoa tiba
Meriak muka air kolam jiwa
Dan dalam dadaku memerdu lagu
Menarik menari seluruh aku

Hidup dari hidupku, pintu terbuka
Selama matamu bagiku menengadah
Selama kau darah mengalir dari luka
Antara kita Mati datang tidak membelah…

SENJA DI PELABUHAN KECIL
buat: Sri Ajati

Ini kali tidak ada yang mencari cinta
di antara gudang, rumah tua, pada cerita
tiang serta temali. Kapal, perahu tiada berlaut
menghembus diri dalam mempercaya mau berpaut

Gerimis mempercepat kelam. Ada juga kelepak elang
menyinggung muram, desir hari lari berenang
menemu bujuk pangkal akanan. Tidak bergerak
dan kini tanah dan air tidur hilang ombak.

Tiada lagi. Aku sendiri. Berjalan
menyisir semenanjung, masih pengap harap
sekali tiba di ujung dan sekalian selamat jalan
dari pantai keempat, sedu penghabisan bisa terdekap

1946

CINTAKU JAUH DI PULAU

Cintaku jauh di pulau,
gadis manis, sekarang iseng sendiri

Perahu melancar, bulan memancar,
di leher kukalungkan ole-ole buat si pacar.
angin membantu, laut terang, tapi terasa
aku tidak ‘kan sampai padanya.

Di air yang tenang, di angin mendayu,
di perasaan penghabisan segala melaju
Ajal bertakhta, sambil berkata:
“Tujukan perahu ke pangkuanku saja,”

Amboi! Jalan sudah bertahun ku tempuh!
Perahu yang bersama ‘kan merapuh!
Mengapa Ajal memanggil dulu
Sebelum sempat berpeluk dengan cintaku?!

Manisku jauh di pulau,
kalau ‘ku mati, dia mati iseng sendiri.

1946


MALAM DI PEGUNUNGAN

Aku berpikir: Bulan inikah yang membikin dingin,
Jadi pucat rumah dan kaku pohonan?
Sekali ini aku terlalu sangat dapat jawab kepingin:
Eh, ada bocah cilik main kejaran dengan bayangan!

1947

 

YANG TERAMPAS DAN YANG PUTUS

kelam dan angin lalu mempesiang diriku,
menggigir juga ruang di mana dia yang kuingin,
malam tambah merasuk, rimba jadi semati tugu

di Karet, di Karet (daerahku y.a.d) sampai juga deru dingin

aku berbenah dalam kamar, dalam diriku jika kau datang
dan aku bisa lagi lepaskan kisah baru padamu;
tapi kini hanya tangan yang bergerak lantang

tubuhku diam dan sendiri, cerita dan peristiwa berlalu beku

1949

DERAI DERAI CEMARA

cemara menderai sampai jauh
terasa hari akan jadi malam
ada beberapa dahan di tingkap merapuh
dipukul angin yang terpendam

aku sekarang orangnya bisa tahan
sudah berapa waktu bukan kanak lagi
tapi dulu memang ada suatu bahan
yang bukan dasar perhitungan kini

hidup hanya menunda kekalahan
tambah terasing dari cinta sekolah rendah
dan tahu, ada yang tetap tidak terucapkan
sebelum pada akhirnya kita menyerah

1949